Dua Korban Bencana Tanah Longsor di Ponorogo Berhasil Ditemukan

Ponorogo – Tim SAR gabungan berhasil menemukan dan mengevakuasi dua dari 28 orang korban bencana tanah longsor di desa Banaran, kecamatan Pulung, kabupaten Ponorogo, pada Minggu (2/4). Kedua korban ini ditemukan dalam kondisi meninggal. Selanjutnya, jenazah kedua korban diserahkan kepada tim DVI Polda Jatim untuk proses identifikasi.

Kepala Seksi Operasi Kantor SAR Surabaya, Gusti Anwar Mulyadi mengatakan, jenazah korban pertama ditemukan pada pukul 10.15 WIB, sedangkan jenazah korban kedua ditemukan pada pukul 11.40 WIB. Kedua jenazah korban ini sama-sama ditemukan tim SAR gabungan area pencarian yang sama, yaitu di sektor C.

Sementara itu, akibat bencana tanah longsor ini, sebanyak 35 KK (Kepala Keluarga) yang bertempat tinggal di desa Banaran menjadi korban. Jumlah korban jiwa sebanyak 128 orang, yang terdiri dari 100 orang korban selamat dan 28 orang korban sisanya belum ditemukan. Diduga 28 sisa korban ini ikut tertimbun material tanah longsor.

Adapun identitas 28 orang korban yang belum ditemukan, yaitu Litkusnin (60), Bibit (55), Fitasari (28), Arda (5), Janti (50), Mujirah (50), Purnomo (26), Suyati (40), Poniran (45), Prapti (35), Cikrak (60), Misri (27), Anaknya Misri (3), Sunadi (47), Katemi (70), Iwan (30), Katemun (55), Pujianto (47), Siyam (40), Nuryono (17), Menik (45), Kateno (55), Muklas (48), Jadi (40), Suyono (35), Suroso (35), Tolu (47), dan Situn (45).

Gusti menambahkan, Kantor SAR Surabaya mengerahkan dua tim dan sejumlah peralatan SAR guna mendukung upaya pencarian 26 orang korban yang belum ditemukan. Selain itu, Kantor SAR Surabaya juga mendapat tambahan bantuan personel dan peralatan SAR dari Kantor SAR Semarang dan Kantor SAR Yogyakarta, masing-masing sebanyak satu tim.

Selain tim operasi Kantor SAR Surabaya, Semarang dan Yogyakarta, upaya pencarian korban tanah longsor di desa Banaran ini juga melibatkan unsur SAR gabungan, diantaranya dari unsur-unsur TNI - POLRI, BPBD, PMI, Perhutani, TAGANA, RAPI, Senkom, MDMC, SAR MTA, SAR Dog, FKPU, MSR, AGL, Solo Peduli, ICWP, PKS, KRI, SAR Solo, SAR Surabaya, BP Kwarcab Ponorogo, PALA, ACT dan JIC.

Dalam upaya pencarian para korban, tim SAR gabungan mengerahkan empat unit eskavator dan satu tim anjing pelacak. Adapaun jumlah personel yang terlibat upaya pencarian adalah sekitar 300 orang. Terdapat tiga sektor pencarian, yaitu sektor A, sektor B dan sektor C, dimana jumlah personel tim SAR gabungan yang melakukan pencarian di setiap sektor adalah sebanyak 100 orang.

Tim operasi Kantor SAR Surabaya, Semarang dan Yogyakarta sendiri menggunakan sejumlah peralatan SAR, diantaranya APD (Alat Pelindung Diri), peralatan ekstrikasi manual (seperti sekop dan cangkul), genset, emergency lighting, peralatan navigasi, peralatan komunikasi, peralatan medis serta perlengkapan posko.

Menurut informasi dari BNPB dan sejumlah korban selamat, bencana tanah longsor ini terjadi saat warga desa Banaran kembali dari tempat pengungsian ke desa mereka untuk melakukan panen jahe. Di tengah proses memanen jahe ini, tiba-tiba para warga desa yang tersebut dikejutkan dengan suara gemuruh dan asap.

Tidak lama kemudian, bencana tanah longsor pun terjadi sekitar pukul 07.40 WIB. Mereka pun segera berlari menyelamatkan diri ke tempat yang lebih aman. Namun naas, 28 orang warga yang tidak sempat menyelematkan diri, ikut tertimbun tanah longsor.

Hingga berita ini dikabarkan, tim SAR gabungan masih terus melakukan pencarian 26 orang korban tanah longsor yang belum ditemukan. (Lib)
Link Terkait
PEJABAT